Sampel urine di layanan kesehatan
Seseorang menyerahkan pot plastik kepada Anda dan menunjuk sebuah pintu. Ada antrean di belakang Anda, ada orang yang menunggu pot itu kembali, dan tidak ada momen yang jelas untuk mengatakan apa pun.
Pintu yang ditunjukkan kepada Anda. Ada kaitnya, dan di baliknya ruangan itu milik Anda.
Apa yang ada di sisi lainnya. Antrean itu tetap di sana selama Anda menunggu, begitu pula orang yang menunggu pot itu.
Pertama, bagian yang jujur
Halaman ini tidak dapat mengatakan apa yang akan dilakukan seorang petugas, atau apa yang harus dilakukannya, ketika Anda tidak bisa. Kami mencarinya — pada kementerian, pada standar laboratorium, pada panduan urologi — dan tidak menemukan satu pun pernyataan yang diterbitkan tentang hal itu. Kalimat hangat yang kami karang sendiri akan lebih buruk daripada kekosongan itu.
Yang diterbitkan lebih sempit, dan berguna dengan cara lain. Yang diterbitkan adalah untuk apa sampel itu diambil, dan itu memberi Anda sesuatu untuk dikatakan.
Pemeriksaan kesehatan rutin jarang menyebut pot dalam aturannya
Ini temuan yang membalik halaman ini dibanding versi berbahasa Inggrisnya. Di tempat-tempat yang paling sering membuat orang cemas sebelum datang, aturan yang mewajibkan pemeriksaan itu tidak menyebut sampel urine dalam daftarnya. Yang tidak tertulis bukan berarti tidak terjadi: pada beberapa pemeriksaan di bawah ini isi laboratoriumnya memang diserahkan kepada pedoman yang tidak kami temukan, dan pot tetap dapat muncul.
Pemeriksaan kesehatan di sekolah. Petunjuk teknis Cek Kesehatan Gratis Sekolah menyebut jenis pemeriksaan bagi peserta didik tingkat SMA, madrasah aliyah, SMK dan yang sederajat: status gizi, merokok, kebugaran, telinga, mata, gigi, kesehatan jiwa, tekanan darah, gula darah, anemia, talasemia, tuberkulosis, hati, dan kesehatan reproduksi. [KMK 770/2025] Tidak ada pemeriksaan urine di dalamnya.
Cek Kesehatan Gratis bagi orang dewasa. Halaman Kementerian Kesehatan sendiri menyebut pemeriksaan sesuai kelompok umur: tekanan darah, gula darah dan fungsi ginjal, indera mata dan telinga, gigi, jiwa, dan lain-lain. [Kemenkes, Cek Kesehatan Gratis] Daftar itu tidak menyebut pemeriksaan urine. Karena ia ditutup dengan “dan lain-lain”, halaman ini tidak mengatakan bahwa pot tidak pernah muncul di sana — hanya bahwa deskripsi resminya tidak menyebutnya.
Pemeriksaan calon pengantin. Setiap calon pengantin, perempuan maupun laki-laki, harus menjalani deteksi dini penyakit atau skrining kesehatan melalui pemeriksaan kesehatan di Puskesmas atau fasilitas lain sesuai standar, dan fasilitas itu menerbitkan surat keterangan pemeriksaan kesehatan. [Permenkes 2/2025] Pasal itu tidak menyebutkan satu pun jenis pemeriksaan yang dilakukan, dan kami tidak menemukannya disebut di bagian lain peraturan itu.
Pemeriksaan kesehatan jemaah haji. Dilaksanakan tiga kali: di puskesmas dan/atau rumah sakit saat pendaftaran untuk mendapatkan nomor porsi, di puskesmas dan/atau rumah sakit setelah kepastian keberangkatan, dan di embarkasi menjelang pemberangkatan. [Permenkes 15/2016] Hasilnya dituangkan dalam surat keterangan yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh dokter pemeriksa kesehatan haji. [Permenkes 15/2016] Kami membaca kedua peraturan kesehatan haji sampai habis dan tidak menemukan apa yang diperiksa disebutkan di dalamnya. Yang tidak tertulis bukan berarti tidak terjadi: yang dapat dikatakan halaman ini adalah bahwa peraturannya diam tentang isi pemeriksaannya, bukan bahwa potnya tidak ada di meja puskesmas.
Medical check-up untuk melamar kerja, dan pemeriksaan berkala. Peraturan ketenagakerjaan yang mengaturnya menyebut pemeriksaan kesehatan sebelum kerja meliputi pemeriksaan fisik lengkap, kesegaran jasmani, rontgen paru-paru bilamana mungkin, dan laboratorium rutin, serta pemeriksaan lain yang dianggap perlu [Permenakertrans tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja]; di perusahaan yang disebut pasal sebelumnya dalam peraturan yang sama, pemeriksaan berkala dilakukan sekurang-kurangnya satu tahun sekali, kecuali Direktur Jenderal menentukan lain [Permenakertrans tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja]. Apa isi “laboratorium rutin” tidak ditentukan di situ: yang menuliskannya adalah pedoman perusahaan dan dokternya sendiri. Kami tidak menemukan sumber primer Indonesia yang menyebutkan apa yang diminta masuk ke dalam pot pada pemeriksaan itu.
Satu pot lagi mungkin Anda temui: pot tes urine narkoba. Aturannya, siapa yang boleh memintanya, dan apa yang terjadi sesudahnya dibahas di tes urine narkoba; halaman ini tidak mengulanginya.
Di mana pot itu memang tercatat
Dua tempat, keduanya sempit dan bernama.
Program pengelolaan penyakit kronis. Bagi peserta jaminan kesehatan yang terdeteksi menderita hipertensi, pemeriksaan penunjangnya meliputi pemeriksaan kimia darah dan pemeriksaan “urin analisis microalbuminuria” [KMK 2090/2023], dan pemeriksaan yang sama disebut bagi peserta yang terdeteksi menderita diabetes melitus [KMK 2090/2023]; standar tarif program itu menetapkan pemeriksaan “urin analisis” dua kali dalam satu tahun [Permenkes 3/2023]. Kalau pot diserahkan kepada Anda di Puskesmas, inilah salah satu alasan yang tertulis di baliknya: satu pemeriksaan bernama, dengan tujuan bernama, di dalam program bernama.
Pemeriksaan kehamilan. Standar kuantitas pelayanan antenatal adalah kunjungan enam kali selama periode kehamilan [Permenkes 6/2024], dan daftar barang dalam standar yang sama memuat “Pemeriksaan glukoprotein urin” untuk mengetahui diabetes serta risiko preeklamsia dan eklamsia [Permenkes 6/2024]. Peraturan pemerintah tentang pelaksanaan undang-undang kesehatan menguraikan pelayanan antenatal terpadu — edukasi, konseling, skrining faktor risiko, pendampingan, suplementasi gizi, pelayanan medis, rujukan — tanpa menyebut pemeriksaan urine di dalamnya. [PP 28/2024] Jadi yang dapat dikatakan adalah ini: standar pelayanan minimal menamai satu pemeriksaan urine dalam paket antenatal. Bukan bahwa sampel diminta pada setiap kunjungan.
Apa yang diukur, dan dengan apa
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 37 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Laboratorium Pusat Kesehatan Masyarakat [Permenkes 37/2012] menamai isi pemeriksaan itu, dengan kata-katanya sendiri: urinalisa berupa makroskopis (warna, kejernihan, bau, volume), pH, berat jenis, protein, glukosa, bilirubin, urobilinogen, keton, nitrit, lekosit, eritrosit, dan mikroskopik berupa sedimen. [Permenkes 37/2012] Itu pemeriksaan urine rutin yang biasa — pengamatan langsung, carik celup, lalu sedimen di bawah mikroskop — dengan sebuah peraturan di belakangnya. Daftar peralatan ruang laboratorium Puskesmas yang lebih baru memuat alat uji “alat uji analisa urin otomatis” [Permenkes 19/2024], dan daftar peralatan dalam peraturan yang lebih lama memuat “Pot Spesimen Urine (Mulut Lebar)” [Permenkes 37/2012] — benda yang menjadi pokok seluruh situs ini, dengan nomor urut dalam sebuah lampiran.
Mengapa urine dan bukan darah? Selebaran pasien sebuah layanan patologi NHS di Inggris membuka dengan alasannya:
Meskipun banyak pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan pada sampel darah, sebagian kondisi paling baik didiagnosis dengan menganalisis sedikit urine.
Bacalah apa adanya. Kalimat itu mengatakan urine adalah spesimen yang lebih baik untuk sebagian kondisi. Ia tidak mengatakan pemeriksaan darah dapat ditukar atas permintaan. Satu pengecualian yang umum adalah tes kehamilan: layanan informasi kesehatan nasional Australia menyatakan pemeriksaan hCG dapat memakai sampel darah maupun urine. [healthdirect 2025] Satu pengecualian bukan bukti bahwa umumnya tersedia jalan lain.
Pertanyaan yang bisa Anda ajukan
Selebaran yang sama menyatakan apa yang diharapkan layanan itu dari dirinya sendiri:
Dokter umum Anda atau tenaga kesehatan lain, misalnya perawat, sebaiknya menjelaskan mengapa sampel urine diperlukan dan bagaimana cara mengumpulkannya.
Itu sebuah layanan kesehatan di Inggris yang berbicara tentang dirinya sendiri, bukan aturan yang berlaku di Indonesia. Tetapi pertanyaannya tetap pertanyaan yang wajar, dan menanyakan untuk apa sampel itu bukanlah tanda Anda menyulitkan orang.
Tanyakan kepada orang yang tepat, juga. Petugas yang menyerahkan pot belum tentu orang yang meminta pemeriksaannya; selebaran yang sama menyatakan laboratorium mengerjakan sampel sesuai instruksi yang diberikan dokter [SHYPS pathology leaflet]. Jadi pertanyaan “ini untuk apa” adalah milik klinisi yang merawat Anda — sebuah percakapan di dalam ruangan, bukan perundingan di depan pintu toilet.
Dan bila pot kedua muncul setelah Anda dirujuk: aturan rujukan menyatakan fasilitas penerima rujukan tidak mengulang pemeriksaan penunjang terhadap pasien yang dirujuk, kecuali pemeriksaan yang masih dibutuhkan atau yang ditentukan oleh dokter penanggung jawab pelayanan. [Permenkes 16/2024] Bagaimana rujukan itu bekerja dibahas di mencari bantuan.
Kapan sampel itu harus sampai
Peraturan yang sama tentang laboratorium Puskesmas memuat tabel untuk spesimen yang dikirim ke laboratorium rujukan. Untuk “urin rutin”, spesimennya adalah “urin pagi” sebanyak 15 ml dalam wadah gelas atau plastik, dengan stabilitas satu jam pada suhu kamar dan satu hari pada suhu 4 sampai 8 derajat Celsius. [Permenkes 37/2012] Barisnya ditulis untuk sampel yang dikirim ke laboratorium rujukan, bukan untuk sampel yang diperiksa di tempat — tetapi apa yang membuat jam itu ada berlaku pada pot mana pun.
Yang dinamai tabel itu untuk “urin rutin” adalah “urin pagi” [Permenkes 37/2012]: menurut namanya sendiri, spesimen dari berkemih pertama hari itu. Tabel yang sama memberi spesimen itu batas satu jam pada suhu kamar [Permenkes 37/2012], jadi apakah pot boleh diisi di rumah bukan hal yang dapat disimpulkan dari nama spesimennya; itu pertanyaan untuk orang yang meminta pemeriksaannya.
Untuk pemeriksaan urin 24 jam, tabel yang sama menetapkan pengawet toluen, wadah gelas atau plastik, jumlah 2 sampai 5 ml dari urin 24 jam, dan stabilitas empat jam. [Permenkes 37/2012] Tabel itu mengatur penanganan di laboratorium, dan kami tidak menemukan satu pun petunjuk bagi orang yang mengumpulkan sampelnya di dalam peraturan itu.
Mengapa ada jam pada sebuah pot dijelaskan oleh standar mikrobiologi nasional Inggris: penundaan dan penyimpanan pada suhu kamar membuat organisme berkembang biak, sehingga hasilnya tidak lagi mencerminkan keadaan klinis yang sebenarnya. [UK SMI B 41]
Cara mengambilnya adalah soal lain. Peraturan Indonesia yang kami baca menamai jenis spesimennya — urin pagi, urin segar — dan tidak satu pun di antaranya menguraikan cara mengumpulkannya; peraturan yang paling mungkin memuatnya tidak dapat kami baca sama sekali. Standar Inggris itu menyebut sampel pancaran tengah dan clean catch sebagai spesimen yang paling sering dikumpulkan dan yang dianjurkan untuk penggunaan rutin. [UK SMI B 41] Itu standar negara lain; di Indonesia, cara yang diminta adalah cara yang diminta oleh orang yang meminta sampelnya.
Ketika satu sampel menambah sedikit, dan tetap diminta
Bagian ini seluruhnya berasal dari satu bab panduan urologi Eropa yang berjudul sistitis pada perempuan, dan hanya berlaku bagi orang yang menjadi pokok bab itu. Panduan tersebut mendefinisikan pokoknya sebagai infeksi saluran kemih bawah yang terbatas pada kandung kemih, tanpa gejala atau tanda sistemik seperti demam, menggigil, nyeri pinggang atau rasa tidak enak badan.
[EAU 2026]Pada pasien dengan gejala khas sistitis, analisis urine (yaitu biakan urine, pemeriksaan carik celup, dan sebagainya) hanya menghasilkan peningkatan ketepatan diagnosis yang minimal
Kalimat itu tidak berdiri sendiri. Kalimat sesudahnya menyatakan bahwa bila diagnosisnya belum jelas, pemeriksaan carik celup dapat meningkatkan kemungkinan diagnosis sistitis [EAU 2026], dan tabel rekomendasi panduan yang sama tetap meminta pemeriksaan carik celup untuk diagnosis sistitis akut, dengan kekuatan rekomendasi yang dinilainya sendiri lemah [EAU 2026]. Jadi bab itu tidak mengatakan sampel boleh dilewati. Ia mengatakan sampel menambah sedikit ketika gambarannya sudah jelas, dan tetap memintanya.
Ada satu kalimat tentang diagnosis tanpa sampel, dan batasnya melekat padanya: diagnosis sistitis yang akurat pada perempuan dapat didasarkan pada anamnesis terarah tentang gejala saluran kemih bawah dan tidak adanya keputihan atau iritasi vagina [EAU 2026] — dan rekomendasi yang dibangun di atasnya hanya berlaku bagi perempuan yang tidak memiliki faktor risiko lain untuk infeksi saluran kemih sistemik [EAU 2026].
Bagi laki-laki gambarannya berbeda, begitu pula bagi siapa pun yang demam, nyeri pinggang, sedang hamil, atau memakai kateter. Standar nasional Inggris menyatakan sebagian besar infeksi pada laki-laki dewasa bersifat rumit dan berkaitan dengan kelainan saluran kemih [UK SMI B 41], dan panduan Eropa meminta urine dikumpulkan untuk urinalisis dan biakan bila dicurigai infeksi saluran kemih sistemik [EAU 2026], serta menempatkan perempuan hamil di antara keadaan yang mengharuskan biakan urine [EAU 2026]. Bagi mereka, sampelnya bukan tambahan kecil seperti pada bagian di atas.
Sebelum dan sesudah operasi
Ada dua saat dalam operasi yang justru menjadi pokok halaman ini. Yang satu ada potnya. Yang satu lagi tidak ada potnya, dan justru lebih berat.
Sebelum. Panduan nasional Inggris tentang pemeriksaan sebelum operasi menyatakan bahwa pot pada pemeriksaan sebelum operasi sering kali tidak diperlukan, dan menyatakannya langsung:
Jangan menawarkan pemeriksaan carik celup urine secara rutin sebelum operasi.
Panduan yang sama meminta tes kehamilan dilakukan dengan persetujuan perempuan yang bersangkutan bila ada keraguan tentang kemungkinan kehamilan [NICE NG45], dan layanan informasi kesehatan nasional Australia menyatakan tes itu dapat dikerjakan dari darah maupun urine [healthdirect 2025]. Panduan Inggris itu bukan aturan yang berlaku di Indonesia. Tetapi pertanyaannya nyata untuk dibawa ke ruang pemeriksaan sebelum operasi: apakah yang ini diperlukan, dan adakah cara lain mengerjakannya.
Sesudah. Kemampuan berkemih dapat perlu waktu untuk pulih setelah anestesi, dan bangsal atau unit bedah sehari mungkin ingin melihatnya terjadi. Sebuah tinjauan untuk dokter anestesi menyebut besarannya dalam satu kalimat:
Retensi urine sering terjadi setelah anestesi dan pembedahan, dengan insiden yang dilaporkan antara 5% dan 70%.
Itu anestesi dan operasinya, bukan paruresis. Hal itu terjadi juga pada orang yang tidak pernah kesulitan di toilet umum. Tetapi dari luar keduanya tampak sama — dan bagi orang dengan paruresis, bangsal, penantian dan perawat yang bertanya adalah keadaannya itu sendiri.
Selebaran sebuah unit bedah sehari, yang ditulis untuk orang yang pulang dalam keadaan itu, membuka begini:
Setelah operasi Anda, mungkin Anda belum ingin berkemih sebelum siap meninggalkan unit bedah sehari. Sebagian besar orang dalam keadaan seperti ini berkemih dengan cukup normal pada waktunya.
Kandung kemih yang penuh juga dapat diukur tanpa kateter. Selebaran urologi sebuah rumah sakit NHS di Inggris menjelaskan pemindaiannya: pemindaian ultrasonografi kandung kemih mengukur jumlah urine yang tersimpan di dalamnya, dan dapat dilakukan sebelum dan/atau sesudah berkemih untuk memeriksa seberapa baik kandung kemih mengosongkan diri. [NHS bladder scan leaflet]
Keadaan gawat darurat adalah hal yang spesifik, dan perlu dibedakan. Tidak bisa berkemih di bangsal lalu berkemih beberapa waktu kemudian bukan keadaan itu. Tiba-tiba sama sekali tidak dapat berkemih meskipun kandung kemih penuh adalah keadaan gawat darurat: keadaan itu dapat menimbulkan nyeri hebat dan mengancam jiwa, dan penanganan medis darurat perlu dicari segera, apa pun penyebabnya. [NIDDK] Aturan pelayanan berjenjang bagi peserta JKN sendiri dikecualikan pada keadaan gawat darurat. [Permenkes 71/2013]
Jadi ada hal-hal yang dapat ditanyakan, dan tidak satu pun di antaranya aneh: pemindaian sebelum kateter diputuskan, waktu, dan pintu yang dapat ditutup. Dan sebelum Anda dirawat, Anda dapat meminta agar paruresis dicatat dalam rekam medis Anda. Lembar di kaki halaman ini dibuat untuk percakapan itu.
Serahkan lembar ini kepada dokter
Satu halaman tentang apa itu paruresis, dengan sumber bernama di balik setiap barisnya, sehingga Anda tidak menjelaskannya dari titik nol.
Halaman ini terakhir diperiksa pada .
Serahkan lembar ini kepada dokter